Senin, 11 Mei 2020

INTERNET ADDICTION


Etiologi Internet Addiction
Sebelum kita menjelaskan tentang Internet Addiction, kita jelaskan dulu apa itu Internet ?
A.    Pengertian Internet
Pengertian menurut para ahli :
·  Menurut strauss, El-Ansary, Frost (2003, p8) Internet adalah seluruh jaringan yangsaling terhubung satu sama lain. Beberapa komputer- komputer dalam jaringan ini menyimpan file, seperti halaman web, yang dapat diakses oleh seluruh jaringan komputer.
·   Menurut O`Brien (2003, p10) Internet merupakan jaringan komputer yang berkembang pesatdari jutaan bisnis, pendidikan, dan jaringan pemerintahan yang saling berhubungan dengan jumlah penggunanya lebih dari 200 negara.
·   Menurut Allan (2005, p12) internet adalah sekumpulan jaringan komputer yang saling terhubungsecara fisik dan memiliki kemampuan untuk membaca dan menguraikan protokol komunikasitertentu yang disebut Internet Protocol (IP) dan Transmission Control Protocol (TCP). Protokol adalah spesifikasi sederhana mengenai bagaimana komputer saling bertukar informasi.
Berdasarkan tiga pengertian internet diatas dapat disimpulkan internet merupakan seluruh jaringan yang saling terhubung secara fisik dan memiliki kemampuan untuk membaca dan menguraikan protokol komunikasi dengan jumlah pengguna lebih dari 200 negara.

B.     Apa itu Internet Addiction ?
Addiction atau adiksi atau kecanduan adalah keadaan dimana seseorang memiliki dorongan tak terkendali, sering disertai dengan hilangnya kontrol, keasyikan dengan penggunaan, dan terus menggunakan meskipun menyebabkan masalah Penggunaan kata adiksi sebenarnya lebih tepat digunakan pada kecanduan obat. Meskipun demikian, definisi adiksi telah mengalami pergeseran arti dan mencakup sejumlah perilaku, seperti judi berulang, bermain video game, makan berlebihan, olahraga, hubungan percintaan, dan menonton televisi (Young, 2017). Selama beberapa dekade, muncul literatur yang mengembangkan arti adiksi internet dan telah dilegitimasi. Internet addiction atau kecanduan internet adalah salah satu gangguan kejiwaan yang ditandai dengan keasyikan yang berlebihan atau tidak terkontrol, mendesak atau perilaku tentang penggunaan komputer dan akses internet yang menyebabkan gangguan atau distres (Shaw & Black, 2008).
Young (2010) menyebutkan bahwa adiksi internet didefinisikan sebagai ketidakmampuan individu untuk mengontrol penggunaan internet, menghasilkan masalah berat dan ketidaklengkapan kerja otak atau mental fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Kecanduan internet merupakan sebuah sindrom yang ditandai dengan menghabiskan sejumlah waktu yang sangat banyak dalam menggunakan 12 internet dan tidak mampu mengontrol penggunaanya saat online. Menurut Orzack (2004) kecanduan internet merupakan suatu kondisi dimana individu merasa bahwa dunia maya dilayar komputernya lebih menarik daripada kehidupan nyata sehari-hari yang dijalaninya.
Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa adiksi internet merupakan penggunaan internet yang dilakukan seseorang secara berlebihan sehingga ketergantungan untuk menggunakannya secara terus-menerus tanpa memperhitungkan keadaan situasi dan kondisi yang sedang dialaminya.

C.     Apa saja yang bisa menyebabkan Internet Addiction ?
Faktor-faktor yang mempengaruhi addiction internet menurut Montag dan Reuter (2015), yaitu:
1.      Faktor sosial
Kesulitan dalam melakukan komunikasi interpersonal atau individu yang mengalami permasalahan sosial dapat menyebabkan penggunaan internet yang berlebihan. Hal tersebut disebabkan individu merasa kesulitan dalam melakukan 16 komunikasi dalam situasi face to face, sehingga individu akan lebih memilih menggunakan internet untuk melakukan komunikasi karena dianggap lebih aman dan lebih mudah dari pada dilakukan secara face to face. Rendahnya kemampuan komunikasi dapat juga menyebabkan rendahnya harga diri, mengisolasi diri menyebabkan permasalahan dalam hidup seperti kecanduan terhadap internet (Reuter, 2015).
2.      Faktor psikologis
Kecanduan internet dapat disebabkan karena individu mengalami permasalahan psikologis seperti depresi, kecemasan, obsesive compulsive disorder (OCD), penyalahgunaan obat-obat terlarang dan beberapa sindroma yang berkaitan dengan gangguan psikologis. Gangguan tersebut memicu individu untuk melarikan diri dari masalah, menerima hiburan menjadi rasa senang dari penggunaan internet. Pelarian diri ini menyebabkan individu terdorong untuk lebih sering menggunakan internet sebagai pelampiasan dan akan menyebabkan kecanduan (Reuter, 2015).
3.      Faktor biologis
Penelitian yang dilakukan oleh Montag & Reuter (2015) dengan menggunakan functional magnetic resonance image (fMRI) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan fungsi otak antara individu yang mengalami kecanduan internet dengan yang tidak. Individu yang mengalami kecanduan internet menunjukkan bahwa dalam memproses informasi jauh lebih lambat, kesulitan dalam mengontrol dirinya dan memiliki kecenderungan kepribadian depresif.

D.    Dampak dari Internet Addiction
Apa saja dampak negatif yang ditimbulkan akibat kecanduan internet adalah sebagai berikut :
·   Berkurangnya interaksi sosial secara langsung dengan teman-teman karena ketika berkumpul bersama subjek merasa teman-temannya lebih banyak bermain handphone dibandingkan ngobrolnya.
·        Seringnya menunda-nunda pekerjaan karena keasyikan bermain gadget.
·   Mengalami insomnia atau susah tidur karena terlalu asyik dengan gadget hingga  melupakan waktu jam tidur.
·   Terganggunya kesehatan mata subjek yang disebabkan oleh kelemahan fisik akibat kurangnya istirahat karena terus menerus menggunakan internet.
·      Menurunnya prestasi belajar subjek karena ketika sedang asyik bermain internet subjek merasa malas untuk belajar.

E.     Tindakan preventive serta intervensi pada kasus Internet Addiction
Upaya apa yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya kecanduan game online di kalangan remaja? Terlebih dahulu kita harus memiliki kemampuan Self-Regulation yang baik pada diri kita kemudian diterapkan dengan melakukan bersama-sama dalam lingkungan peer. Self-Regulation adalah kemampuan seseorang untuk mengelola tingkah lakunya sendiri melalui observasi, evaluasi, dan konsekuensi (Bandura, 1991). Berikut adalah beberapa jenis skill yang dipaparkan oleh Roos & Witkiewitz (2017) dalam reviewnya yang berjudul “A Contextual Model of Self-regulation Change Mechanisms Among Individuals With Addictive Disorders” dimana hal ini merupakan kunci berhasilnya seseorang dalam mengatur dirinya, sehingga tidak menjadi adiksi. Berikut adalah skill-skill Self-Regulation yang dapat mencegah kecanduan game online:
1.      Acceptance : kemampuan ini berfokus pada penerimaan diri seseorang dengan melepas keinginannya dalam hal ini bermain game online secara berlebihan dengan tidak menuruti keinginan tersebut.
2.      Behavioral Activation: kemampuan ini menekankan untuk mengaktifkan diri pada kegiatan yang lebih bermanfaat dengan tidak melibatkan diri untuk bermain game online. (contoh: aktif dalam organisasi sekolah).
3.      Defusion: kemampuan untuk menyadarkan pikiran kita bahwa bermain game online  bukan hal yang terlalu penting untuk dipikirkan.
4.      Active Communication: mampu menolak bila diajak bermain game online.
5.      Emotional Awareness: mampu peka ketika ada dorongan emosi untuk bermain game online dan bisa menghindarinya.
6.      Exercise: : Melibatkan diri dalam aktivitas fisik untuk mengatasi dorongan bermain game online (contoh: bersepeda, jogging, dll).
7.      Grounding : kemampuan ini berfokus pada sensasi pernafasan agar tubuh menjadi relax sehingga dapat mengontrol diri ketika muncul dorongan bermain game online.
8.      Cognitive Reappraisal: mampu mengingatkan diri tentang apa saja dampak negatif dari bermain game online jika berlebihan atau apa saja dampak positif yang didapat jika mengurangi waktu bermain game online.
9.      Problem Solving: mampu melakukan brainstorming dengan cara yang berbeda untuk mengatasi keinginan menambah waktu bermain game online.
10.  Seeking Social Support: bergabung pada orang lain yang dapat mendukung dan membimbing agar mampu mengatasi keinginan bermain game online.
11.  Self Compassion: mampu simpati pada diri sendiri bahwa tidak masalah memiliki keinginan, dalam hal ini bermain game online.
12.  Spritual/Religious Coping: memperkuat iman dengan rajin berdoa agar mampu mengatasi dorongan untuk bermain game online.
13.  Stimulus Control: mampu meninggalkan situasi yang memicu dorongan untuk bermain game online.
14.  Value Clarification: kemampuan ini berfokus pada penekanan nilai-nilai yang didapat untuk selalu mengingatkan kepada diri mengenai komitmen diri agar mencapai tujuan, dalam hal ini tujuannya adalah mencegah agar tidak mengalami kecanduan game online.
Intervensi psikologis mungkin mencakup perubahan lingkungan atau perubahan asosiasi yang telah dibuat oleh Internet, atau mengurangi penguatan yang diterima akibat penggunaan Internet yang berlebihan. Intervensi interpersonal mungkin terdiri dari pendekatan seperti pelatihan ketrampilan sosial atau pendampingan (coaching) dalam keahlian-keahlian komunikasi. Terapi keluarga dan pernikahan mungkin dapat diterapkan jika pengguna beralih ke Internet sebagai pelarian terhadap masalahmasalah dalam keluarganya.





Daftar Pustaka

Roos dan Witkiewitz. (2017). A Contextual Model Of Self-regulation Change Mechanisms Among Individuals With Addictive Disorders. Journal of Clinical Psychology Review. Vol : 57, (117-128).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar