NAMA
: ANTIKA
KELAS
: 1PA12
NPM
: 10518965
MITOS BUAYA PUTIH
I.
CONTOH MITOS
Cirebon - Ada mitos yang
mengiringi Situs Lawang Sanga Cirebon. Masyarakat Cirebon meyakini di sekitar
sungai yang lokasi berdekatan dengan situs terdapat buaya putih.
Situs Lawang Sanga lokasinya berada di Sungai Kriyan, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat. Buaya putih yang hidup di Sungai Kriyan itu diyakini sebagai penjaga situs Lawang Sanga.
Lurah Keraton Kasepuhan Cirebon Mohamad Maskun menceritakan buaya putih yang hidup di Sungai Kriyan merupakan jelmaan salah seorang putra dari Sultan Sepuh I Syamsudin Martawijaya. "Buaya putih itu tak buas atau galak. Buaya tersebut merupakan anak dari sultan sepuh pertama yang dikutuk oleh sultan.
Situs Lawang Sanga lokasinya berada di Sungai Kriyan, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jawa Barat. Buaya putih yang hidup di Sungai Kriyan itu diyakini sebagai penjaga situs Lawang Sanga.
Lurah Keraton Kasepuhan Cirebon Mohamad Maskun menceritakan buaya putih yang hidup di Sungai Kriyan merupakan jelmaan salah seorang putra dari Sultan Sepuh I Syamsudin Martawijaya. "Buaya putih itu tak buas atau galak. Buaya tersebut merupakan anak dari sultan sepuh pertama yang dikutuk oleh sultan.
Maskun mengatakan anak dari Sultan Syamsudin yang dikutuk menjadi buaya
putih memiliki nama Elang Angka Wijaya. Ia menceritakan awal mula dikutuknya
Elang Angka Wijaya menjadi buaya putih.
Elang Angka Wijaya, lanjut dia, dikutuk lantaran tak nurut dengan Sultan Syamsudin.
"Elang Angka Wijaya ini memiliki kebiasaan kalau makan sambil tiduran, tungkurep gitu. Nah, sama sultan dinasehati agar setiap makan tak seperti itu. Tapi tetap tak nurut, sultan berucap anaknya kalau makan seperti buaya. Ucapan orang dulu kan manjur," ucap Maskun.
Elang Angka Wijaya, lanjut dia, dikutuk lantaran tak nurut dengan Sultan Syamsudin.
"Elang Angka Wijaya ini memiliki kebiasaan kalau makan sambil tiduran, tungkurep gitu. Nah, sama sultan dinasehati agar setiap makan tak seperti itu. Tapi tetap tak nurut, sultan berucap anaknya kalau makan seperti buaya. Ucapan orang dulu kan manjur," ucap Maskun.
Lebih lanjut, Maskun menceritakan awalnya buaya putih
jelmaan Elang Angka Wijaya itu hidup di lingkungan keraton, tepatnya di salah
satu kolam yang berada di bangunan Lunjuk Keraton Kasepuhan. Namun, lanjut dia,
saat sudah besar buaya putih tersebut berpindah tempat ke Sungai Kriyan, yang
memang lokasiny tak jauh dari keraton.
"Sultan merasa jengke dengan tingkah anaknya ini, karena tak nurut. Hingga akhirnya jadi buaya putih. Tentu ini juga harus menjadi pelajaran hidup," ucapnya.
Ia menambahkan masyarakat sekitar Sungai Kriyan masih mempercayai tentang mitos buaya putih tersebut. Bahkan, lanjut dia, ada tradisi tersendiri saat masyarakat sekitar melihat buaya putih.
"Tradisinya lempar tumpengan ke sungai kalau ada masyarakat yang melihat buaya putih. Sama-sama menjaga lingkungan," ucapnya
"Sultan merasa jengke dengan tingkah anaknya ini, karena tak nurut. Hingga akhirnya jadi buaya putih. Tentu ini juga harus menjadi pelajaran hidup," ucapnya.
Ia menambahkan masyarakat sekitar Sungai Kriyan masih mempercayai tentang mitos buaya putih tersebut. Bahkan, lanjut dia, ada tradisi tersendiri saat masyarakat sekitar melihat buaya putih.
"Tradisinya lempar tumpengan ke sungai kalau ada masyarakat yang melihat buaya putih. Sama-sama menjaga lingkungan," ucapnya
II.
ILMU PENGETAHUAN PSIKOLOGI YANG MEMBUAT SAYA PENASARAN
Saya mengambil jurusan
psikologi karena saya ingin mengetahui tentang psikologi anak. Karena dengan
mempelajari psikologi ini, kita mendapatkan manfaat. Baik untuk orang lain,
diri sendiri, untuk keluarga,dll. Contohnya, dengan mempelajari psikologi
jikalau kita nanti membina rumahtangga dan memilih buah hati kita dapat memberikan pendidikan yang tepat sesuai dengan
pola-pola dan tingkat-tingkat perkembangan anak, membantu apa yang diharapkan
oleh anak dan kapan yang diharapkan itu muncul, mengetahui perkembangan yang
normal pada anak, membantu orang tua dalam menghadapi tantangan saat
membesarkan dan mendidik anak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar